








dunia dari sudut pandang matahari.
klik gambar untuk selengkapnya.
informasi umum
| Nama lengkap | Baskara Dwiyang ekacita |
| Nama panggilan | bas, kara, dwi |
| tempat, tanggal lahir | jakarta, 25/09/2000 |
| Etnis | jawa-minang |
| kewarganegaraan | indonesia |
| umur | 18 |
| kesukaan | segala jenis buah-buahan, sayur-sayuran, yogurt, keju, bubble tea |
| ketidaksukaan | nanas, seafood |
| hobi | menyanyi, memasak, bermain piano, vlogging, fotografi, horror-gaming |
kepribadian
mbti infj-a
tempramen sanguinis
| strengths | weaknesses |
|---|---|
| creative | sensitive |
| insightful | extremely private |
| inspiring & convincing | perfectionist |
| determined & passsionate | always need to have a cause |
| altruistic | indecisive |
coming soon
coming soon
masa lalu bukan sesuatu yang dapat kau nikmati;
masa kini pun penuh pedih;
akan tetapi masa depan sepenuhnya milikmu.
jalani.
baskara dwiyang ekacita, menyambut dunia luas nan kejam ini dengan tangisan, layaknya anak-anak lain. lahir dengan persalinan normal, setelah 3 jam, perjuangan sang ibunda terbayar lunas. bayi ekacita menyapa dunia, tanpa cacat cela. ayah dan ibu baskara, sebagaimana pasangan muda, sempat berdebat mengenai asma yang akan disematkan pada sang wira. sang ayah menyukai senja, terpintas nama swastamita. sementara itu, sang ibu menyukai fajar, tercetus nama arunika. namun, memang dasarnya anak laki-laki ini datang dalam nama keadilan; ia lahir di siang bolong. pasangan muda tersebut pun menyematkan nama baskara, yang artinya matahari, pada sang anak. kemudian, nama tengahnya diambil dari saran sang nenek dari pihak ibu, dwiyang; yang /katanya/ berarti langit yang luas. terakhir, ekacita. bukan marga, akan tetapi sebagai pengingat bahwa baskara lahir karena ada penyatuan hati dari keduanya. harapannya, baskara mampu memberi aura positif bagi orang-orang di sekitarnya tanpa pandang bulu, serta menjadi anak kesayangan kedua orang tuanya.
masa kecil baskara tidak sebahagia itu. walaupun ia memiliki keluarga yang sangat menyayanginya, tampak jelas dunia luar tidak menerima kehadiran baskara. sang wira seringkali menjadi bahan celotehan ibu-ibu, bahkan kawan sebayanya. pertanyaannya selalu sama.
"hei, baskara! ibumu orang kristen, ya? kok ngga jadi muslim, sih?"
"lihat, keluarganya saja tidak jelas memeluk agama apa. bagaimana bisa mereka mengurus anak dengan benar?"
"baskara, muslim bukan, sih?"
baskara lelah. ia tidak suka pertanyaan seperti itu. setiap hari, usai shalat maghrib, ia sempatkan bertanya pada ayahnya─yang ia panggil abi─. "ayah, kenapa, sih, mereka nanyain mamah terus? emangnya mereka ngga bisa tanya ke mamah sendiri?"
"bas ... sudah, ya. waktu itu abi sudah jelaskan ke mereka, maafkan abi kalau kamu sampai kena juga."
coming soon
coming soon












